Featured blog image
Keagamaan

Tiga Wasiat Luqman Hakim Menggema dalam Pengajian Ahad Pahing PAC Fatayat NU Gandusari: Bekal Mendidik Generasi dan Menguatkan Organisasi

GANDUSARI – Pengurus Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Gandusari kembali menggelar Pengajian Ahad Pahing sebagai agenda rutin yang tidak hanya menjadi sarana memperkuat spiritualitas kader, tetapi juga momentum konsolidasi organisasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Ahad, 19 Juli 2026, bertempat di MI Islamiyah Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, dan diikuti ratusan kader Fatayat NU dari seluruh Pimpinan Ranting (PR) se-Kecamatan Gandusari.

Sejak pagi hari, para peserta memadati lokasi kegiatan dengan penuh semangat dan kekhidmatan. Kehadiran kader dari berbagai ranting mencerminkan komitmen bersama dalam merawat tradisi keilmuan, mempererat ukhuwah, sekaligus memperkuat gerakan organisasi Fatayat NU di tingkat kecamatan.

Dalam sambutannya, Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Gandusari, Sahabat Yetti Faula, S.Pd., mengajak seluruh kader untuk terus memperkuat soliditas organisasi serta menyelaraskan semangat gerakan Fatayat NU hingga ke tingkat ranting. Pada kesempatan tersebut, beliau juga menginstruksikan agar seluruh kader menyosialisasikan yel-yel terbaru Fatayat NU yang diperkenalkan oleh Ketua Umum PP Fatayat NU, Sahabat Margaret Aliyatul Maimunah, yakni:

"Menguat bersama, maju bersama, untuk perempuan Indonesia dan peradaban dunia menuju organisasi digdaya."

Menurutnya, yel-yel tersebut bukan sekadar slogan, melainkan representasi semangat kolektif Fatayat NU dalam membangun perempuan yang tangguh, berdaya, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban.

Puncak kegiatan diisi dengan Mau'idhah Hasanah yang disampaikan oleh KH. Khoirul Yasak dari Srengat, Kabupaten Blitar. Dalam ceramahnya, beliau mengangkat tema tentang Wasiat Luqman Hakim sebagai pedoman dalam membangun karakter anak sekaligus membentuk pribadi muslim yang berakhlakul karimah.

Mengacu pada nasihat Luqman kepada putranya, KH. Khoirul Yasak menyampaikan tiga pesan utama yang dinilai sangat relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Pesan pertama adalah menjaga hati ketika melaksanakan shalat. Menurut beliau, shalat tidak cukup hanya dilakukan sebagai rutinitas fisik, tetapi harus menghadirkan kekhusyukan dan kesadaran penuh akan keagungan Allah SWT. Dzikir dan shalawat hendaknya menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menumbuhkan rasa cinta serta penghormatan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Pesan kedua adalah menjaga pandangan ketika berada di rumah atau lingkungan orang lain. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga adab saat bertamu dengan tidak mencari-cari kekurangan maupun aib orang lain. Sikap tersebut merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus dibiasakan sejak dini dalam keluarga.

Sementara itu, pesan ketiga adalah menjaga lisan ketika berkumpul dengan sesama. KH. Khoirul Yasak menekankan bahwa lisan merupakan amanah yang harus dijaga agar tidak digunakan untuk menyakiti hati orang lain, menyebarkan fitnah, maupun melakukan ghibah. Menurut beliau, keharmonisan keluarga, organisasi, dan masyarakat sangat bergantung pada kemampuan setiap individu dalam menjaga ucapan.

Melalui pemaparan tersebut, para peserta diajak memahami bahwa pendidikan karakter anak tidak hanya dilakukan melalui nasihat, tetapi juga melalui keteladanan orang tua dalam menjaga hati, pandangan, dan lisan. Nilai-nilai yang diwariskan Luqman Hakim tetap relevan sebagai fondasi membangun keluarga yang saleh sekaligus masyarakat yang harmonis.

Kegiatan Pengajian Ahad Pahing berlangsung dengan khidmat hingga akhir acara. Selain menjadi ruang memperdalam ilmu agama, forum ini juga menjadi wadah konsolidasi organisasi serta penguatan semangat kader Fatayat NU dalam menjalankan perannya sebagai perempuan muda Nahdliyin yang aktif, berilmu, dan berdaya.

PAC Fatayat NU Gandusari berharap kegiatan rutin ini terus menjadi media pembinaan spiritual dan penguatan kapasitas kader, sehingga mampu melahirkan generasi perempuan yang tidak hanya kokoh dalam nilai-nilai keislaman, tetapi juga siap menggerakkan organisasi menuju Fatayat NU yang semakin digdaya.

Related Topics