PAC Fatayat NU Wlingi Teguhkan Komitmen Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak Melalui Sarasehan Penguatan Perlindungan di Era Digital
Blitar – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Wlingi terus menunjukkan komitmennya dalam membangun kepedulian terhadap isu perlindungan perempuan dan anak. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sarasehan bertajuk "Stop Kekerasan, Mulai Kepedulian: Penguatan Perlindungan Perempuan dan Anak di Dunia Nyata dan Dunia Maya" yang diselenggarakan pada Sabtu (27/6/2026) di Makmur Café dan Resto Wlingi. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan kapasitas kader Fatayat NU dalam menghadapi meningkatnya tantangan kekerasan, baik yang terjadi secara langsung maupun melalui media digital.
Sarasehan menghadirkan Sahabat Meisy Fajarani, S.H., M.H., CPLA, Ketua Yayasan Matahati Care Centre Indonesia, Dosen Universitas Brawijaya Malang, sekaligus Koordinator Bidang Hukum dan Advokasi PAC Fatayat NU Wlingi, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Sahabat Meisy menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Menurutnya, orang tua, pendidik, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang sehat, memberikan edukasi sejak dini, serta menciptakan ruang yang aman bagi anak untuk menyampaikan pengalaman maupun persoalan yang dihadapinya.
Selain membahas kekerasan yang terjadi di dunia nyata, peserta juga diajak memahami berbagai bentuk kekerasan berbasis digital, seperti perundungan siber (cyberbullying), eksploitasi anak di media sosial, hingga pentingnya menjaga keamanan data pribadi. Literasi digital dinilai menjadi bekal penting agar perempuan dan anak mampu memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan bertanggung jawab. Sejalan dengan komitmen Fatayat NU, penguatan perlindungan perempuan dan anak terus menjadi salah satu fokus gerakan organisasi.
Suasana sarasehan berlangsung hangat dan interaktif. Para kader dari ranting-ranting Fatayat NU se-Kecamatan Wlingi tampak antusias mengikuti materi, berdialog, serta berbagi pengalaman mengenai persoalan yang ditemui di lingkungan masing-masing. Diskusi tersebut memperkaya wawasan peserta sekaligus memperkuat jejaring kader dalam upaya pencegahan dan pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Melalui kegiatan ini, PAC Fatayat NU Wlingi berharap para kader mampu menjadi pelopor edukasi di tengah masyarakat, tidak hanya memahami bentuk-bentuk kekerasan, tetapi juga memiliki keberanian untuk melakukan pencegahan, pendampingan, dan membangun budaya saling peduli di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Sarasehan ini menjadi bukti bahwa Fatayat NU terus hadir sebagai organisasi perempuan muda Nahdlatul Ulama yang responsif terhadap berbagai persoalan sosial, sekaligus memperkuat perannya dalam mewujudkan perempuan berdaya, keluarga tangguh, dan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak.